Saturday, July 22, 2017

A short story about me and that guy 2017

I think we've just met twice in this year. The first one, we went out for movies, and that was fast. The second one we went out to the beach with other friends. Nothing special happened. We aren't that close like we used to, but we're close in another way (if you know what I mean). But, I like that way. Little talks in the night with friends, the pool, the beach, the house, the food and the trip. I guess you're feeling the same that day, all of the things. Until you are home and our little talks it made me happier. Your feelings every time that we met, I can see that. I don't know why but sometimes after every time we met, you act like you used to act before. And it's cute. In the end, I thought we just keep our feelings until time shows us to do.

I like you in a different way now. We had our own path, but I know when I can miss you and when I can't. This year I think we can figure out what we want and be our own, I want your happiness more than just your feelings. I hope that I'm here or I'm still here whenever you want me to, but until then I know I need someone who is completely in with me too.
Share:

Sunday, May 28, 2017

Sunday, December 25, 2016

Again and again

Seperti hal yang sudah wajib, dan ya tulisan ini saya buat setelah bertemu dengan dia. Sore itu, seperti biasa dia menjemput saya. Hari dimana salah satu teman saya mengadakan acara makan malam untuk merayakan hari kelahiran nya. Dan, ucapan ia yang saya ingat setelah memasuki mobil adalah "bukannya punya sepatu coklat kan?". Salah satu hal yang saya selalu suka dari nya, saat ia berkata "you better with the short hair" "those shoes looks good on u" "no bangs please" "let's wear flannel today (or whatever)" stuffs like that. Lalu, percakapan pun dimulai dengan pertanyaan saya. Hari itu dia tidak banyak bicara, hanya menjawab hal-hal yang saya tanyakan. Kemudian, seperti rute biasanya kami menjemput salah satu teman. Dan selama perjalanan menuju tempat itu, saya sadar akan satu hal. Dia banyak mengungkapkan kata kepadanya but not to me, even he isn't trying to take me to their conversation. Oh, dia sedang mengacuhkan saya it means menjaga jarak mungkin?. Benar, itu adalah yang terakhir. Pertemuan kita sebelumnya adalah yang terakhir. Acara pun berlangsung, we are on the same table. Lalu sepertinya dia memulai kembali, berbicara dengan semua orang kecuali saya, bercanda gurau dengan semua orang kecuali saya, and when i try to answer his plan 'bout "we should go to this place and blahblah" dia hanya diam, berganti topik, tidak membahasnya. Saya sadar akan hal itu, mencoba tidak memikirkannya toh malam itu adalah not his day or something. Tetapi malam itu, dia begitu manis berbalut kemeja hitam, jeans dan sepatu hitam. Senyuman nya yang memikat tidak pernah hilang dari wajahnya. Ralat. Bukan begitu manis melainkan selalu manis. Saya tidak sadar seberapa dalam saya terjatuh pada senyuman nya. Hal lain yang terjadi kemarin adalah, mungkin cukup sepele atau dia melakukan nya tanpa sadar tapi cukup untuk membuat teman saya bertanya ada apa dengan dirinya?. Setelah makan, sesi foto pun dimulai. Saat ini lah membuat saya semakin sadar bahwa ia benar-benar menjaga jarak dengan saya. Tidak perlu saya detail kan mengapa dan kenapa. Saya pun bersikap normal, berpura-pura tidak sadar atas kejadian itu. Saat perjalanan pulang tidak banyak percakapan karna kami hanya mendengarkan beberapa lagu kesukaan saya. Setelah, mengantar teman saya. Kembali lagi kami berdua, mulailah percakapan dan candaan tapi tidak seperti biasanya. Atmosfer yang terjadi pada malam itu berbeda. Mungkin memang ia yang sudah menjaga jarak or was it me? Ingatlah akan satu hal, bahwa  rasa ini mulai tumbuh semenjak siang itu, setelah pulang sekolah, dirumah mu bersama teman lain nya alih alih membuat gerakan senam kita semua tertidur. Entah sampai kapan semuanya akan hilang, dan sampai rasa ini hilang ingatlah bahwa saya pernah mempunyai perasaan yang begitu dalam seperti hal nya semua tulisan yang saya buat. Bukan untuk memberitahumu akan sesuatu, entah kamu baca atau tidak saya hanya ingin menuliskan momen yang akan selalu ada dan terkenang jika saya menuliskan disini. 
Share:

Sunday, December 11, 2016

Mungkinkah Ini Yang Terakhir?

Beberapa minggu yang lalu 2x saya bertemu tanpa sengaja dengan nya. Lalu,  kita memutuskan untuk bertemu tepat pada malam sabtu, jum'at, satu minggu yang lalu. Hari itu hujan, tapi tidak begitu deras. Seperti biasa dia menjemput saya, lalu tak banyak percakapan yang terjadi pada saat itu. Jujur saja, saya tidak terlalu menikmati hari itu, tidak terlalu menikmati film nya. Saya memang tidak suka berbincang saat menonton, namun sungguh ingin rasanya berbagi cerita dengan nya pada saat itu. Film tidak terlalu mengesankan, kamu juga tidak banyak bicara. Pikiran saya pada hari itu sebenarnya cukup banyak. Memikirkan tugas-tugas yang belum selesai karna saat itu saya menuju UAS. Sebelum pergi pun saya sedang mengerjakan tugas dan saat pulang pun saya langsung mengerjakan tugas saya. Jadi, sekiranya hari itu kurang mengasyikan untuk kamu ya memang itu juga kurang untuk saya karna pikiran saya terbagi banyak. Tetapi kamu tetap sama, manis dan apa adanya. Tetapi saya pun tahu kamu memang sedang tidak ingin berada dalam hubungan apapun itu. Perjalanan pulang lebih cepat dan seketika itu saya sadar. Saya telah menyia-nyiakan waktu dengan kamu tanpa banyak kata. Hingga akhirnya pun akan sampai pada rumah saya, saya meminta untuk mengitari sekali lagi karna saya sadar cukup sulit untuk kamu meluangkan waktu bersama. Penyesalan selalu datang terakhir, lagi-lagi kata yang sudah terangkai pun tidak diucapkan. Sekali lagi maaf, memang seminggu terakhir saya sedang mengejar deadline dan ya lagi banyak pikiran saat itu
Share:

Thursday, November 17, 2016

Yang selalu singgah

Ternyata pertemuan yang tak terduga ini mengartikan bahwa tubuh pun tak bisa berbohong. Bertemu, berbicara, dan berada di dekat dirimu membuat seluruh tubuh saya bergetar hebat serta hati yang berdegup kencang. Tidak pernah terbayang dan terlintas di pikiran saya bahwa tubuh saya pun bisa ber reaksi seperti ini. Runtuhlah tembok yang sudah saya bangun, walaupun tidak banyak tapi cukup untuk membuat dirimu berada di pikiran saya lagi. Merindukan semua kenangan, kata, dan suara mu. Entah dimana lagi saya bisa menemukan sosok seperti dirimu. Dan, disinilah saya. Kembali lagi dan lagi kepada kamu. Menarik semua tulisan yang saya buat saat ingin menghapus mu. Disinilah saya, menyerah sekali lagi. Menyerah kepada sang waktu. Menyerah kepada sang cinta. Bisakah hatimu mencoba menerima saya lagi? 
Share:

Thursday, October 13, 2016

Pengakuan yang menggelikan

Kamu berhasil mengisi seluruh ruang yang telah tersedia. Tak pantas rasanya untuk memiliki perasaan seperti ini. Tak mau akui bahwa saya telah menerima kehadiran mu. Tetapi kali ini sungguh saya tak mengharapkan kamu, kamu dan saya tidak akan pernah terjadi. Saya tidak ingin kembali dalam lingkaran yang sama. Seberapa jauh saya telah melangkah ternyata lingkaran itu selalu menarik saya untuk kembali. Lingkaran ini sudah saya tempati selama 18tahun, saya ingin keluar dalam lingkaran ini. Mencari lingkaran atau membentuk lingkaran yang baru. Dan yang pasti tidak ada kamu, dia, mereka atau siapapun di dalamnya. Hati ini selalu saya teguhkan kepada dirinya yang telah mengisi sejak lama tetapi selalu terngiang sosok dirimu. Saya telah mengingkari apa yang saya katakan pada dirinya. Ternyata secepat itu lah yang terjadi. Maaf, saya malu mengakui bahwa kamu telah mencuri pikiran saya. Saya tidak suka hal ini, tidak suka perasaan ini, saya tidak ingin kejadian yang lampau terulang kembali. Kali ini saya sangat malu dan benci karna telah memiliki perasaan ini.
Share:

Wednesday, October 5, 2016

Dalam sebuah lingkaran

Saat baru akan mulai melangkah, menetapkan langkah dan saat itu juga saya kembali terjebak dalam suatu lingkaran. Lingkaran yang membawa saya menemui semua kenangan masa lampau. Entah itu berisi dengan teman, dan lain nya. Saya kembali berpijak di dalam lingkaran yang sama. Lingkungan yang sama. Pertemanan yang sama. Tidak, sebenarnya tidak mau. Tidak mau mengulangi kesalahan seperti dulu lagi, membuka lagi ruang waktu yang sudah berlalu. Tetapi apa daya, diri ini mengikuti semua pijakan yang saya buat. Sudah basi rasanya mengenal semua ruang lingkup dalam lingkaran ini. Sudah banyak yang pernah saya jelajahi. 
Share: